Sawit, Himsa dan Sungai Darah

Ilustrasi: henkel.com

#YusmarYusuf

Barat bawaannya meringkus. Seolah mereka yang paling benar. Berposisi sebagai orang kaya dan jumawa dalam larian sejarah. 

Akhirnya, terus merasa besar kepala. Termasuk dalam ihwal sawit dan produk turunannya. Apa-apa yang dikaitkan dengan sawit sebagai primadona pertiwi tropika akan berhadapan dengan sejumlah ringkusan Barat.

Ya, Barat meringkus dengan sejumlah instrumen orang kaya yang berada dalam genggamanya. Si kaya akan terasa menjadi kaya, kalau masih ada teater di luar sana dalam peran peminta minta,  para  pemulung dan juluran kaum pariah-oiketai. Tepatnya di negara-negara bawah angin peradaban. Termasuk kita, Indonesia. Upaya peringkusan ini tiada henti.

Memang telah dilakukan sejumlah dialog (diplomasi) antara negara produsen sawit dengan Masyarakat Eropa, berkali-kali. Hasilnya? Terkadang gembira, tak sedikit pula kita harus memikul rona serba gerhana.

Peringkusan dan penaklukan secara ekonomi pasar oleh Eropa terhadap produk-produk sawit, sejatinya sebuah kegiatan yang digolongkan dalam perbuatan ‘himsa’. Sejenis lelaku berpembawaan negatif, destruktif. Lawan dari perbuatan ‘ahimsa’, yang berpembawaan positif dan konstruktif.

‘Himsa’, termasuk di dalamnya; melukai, membunuh, meringkus, menghancurkan, meluluh-lantakkan sistem yang sudah terbina secara baik. Maka, ujar Ghandi “pada setiap langkah manusia, kita harus senantiasa membedakan apakah ‘himsa’ atau ‘ahimsa’ yang kita lakonkan?

Konflik sawit secara global mencakup mekanisme pasar dan blokade. Pelaku utamanya tentulah negeri-negeri subtropis yang seolah-olah mengusung kebenaran profetik demi penyelamatan bumi dan climate change. Isu yang amat mendua; baik makna maupun penerapannya.

Di satu sisi, kehancuran hutan-hutan yang dilakukan oleh Eropa ratusan tahun silam, belum sempat direcoki oleh dunia. Karena masa itu adalah masa ‘bisu’ dalam trans-informasi melintas benua.

Ditambah lagi penghancuran itu dilakukan secara sistematis oleh Barat demi memenuhi keperluan energi bagi negeri-negeri kaya, dan yang tereksploitasi bukan saja hutan-hutan Eropa, termasuk pula hutan di benua Amerika (utara).

Dalam catatan pakar, hanya dalam waktu 25 tahun mereka lakukan untuk sebuah tindakan perubuhan hutan. Mereka harus menumbuhkan kembali hutan yang sama (primer atau sekunder) dalam masa 200 tahun. Terlalu mahal… (?)

Hari ini, kita dicegah dan dianggap sebagai pelaku skandal utama tentang deforestasi (penghancuran hutan tropis). Data sebaliknya? Malah Eropalah yang paling garang dan ofensif dalam penganiayaan hutan (lewat pembukaan ladang-ladang kedele, bunga matahari dan Rapa) dengan angka luasan yang amat mengejutkan.

Pembukaan ladang sawit di dunia lain, jauh di bawah eksploitasi hutan untuk ladang kedele, bunga matahari dan rapa itu. Di sini terjadi perang informasi dan opini. Siapa yang menguasai informasi dan mampu membangun opini, maka dialah keluar selaku pemenang.

Hidup, dikonversi dalam permainan antara menang dan kalah. Apakah konflik ini baru akan usai setelah terbentang sungai darah?

Bicara menang dan kalah, ujungnya adalah darah. Ya, sungai darah. Namun, upaya ini bisa dibendung dengan tindakan nir-kekerasan (alias ahimsa) yang disuling dari kebijaksanaan timur.

Sebuah legenda dari kaum Buddha: terjadi pertikaian memperebut sumber air yang sedikit antara dua puak: Sakya dan suku Koliya. Sungai itu bernama Rohini (saat ini disebut sungai Rowai). Sungai mereka bendung dengan maksud sebagai sumber irigasi bagi sawah-sawah dari kedua puak itu.

Saat air meninggi, terbitlah kegembiraan para pihak. Tapi, kala air mengering, volume cetek dan mengecil, amarah pun bangkit. Masing-masing pihak saling tuding, berujung pukul, saling cerca dan maki hamun. Perang antar puak pun tak terelakkan. Inilah jenis peringkusan ala ‘himsa’ era itu.

Dua pucuk pimpinan suku itu memutuskan untuk berperang, bukan untuk menyelesaikan masalah kekurangan air. Namun, demi menebus aib atas penghinaan yang mereka alami antara kedua puak.  Aneh? Ya, karena terlalu heboh dan ramainya “juru sorak” (semacam cheerleaders).

Buddha sang tercerah itu pun datang dan berkeputusan untuk ikut campur atas permasalahan ini. Tersebab integritas spiritual, terkait pula pertalian nasab dengan pucuk pimpinan Sakya, sabda sang Buddha didengar dengan seksama; terutama mengenai ihwal sebab pertikaian pecah.

Dalam Dhammapada dikisahkan bahwa semua orang mencakup raja, panglima, perdana menteri, pangeran, para guru, lupa tentang apa penyebab pertikaian itu (casus belli). Hanya tersisa para budak pekerja kasarlah yang memiliki memori yang kuat tentang awal pertikaian: “Disebabkan oleh air!!!”. Begitu seru para budak di depan Buddha, serentak.

Dan, Buddha pun bertanya: Berapa banyak lagi kah air yang boleh dimanfaatkan, wahai raja yang agung?

Raja: Sangat sedikit, Tuan Pendeta yang Mulia.

Buddha: Berapa pejuang Katya yang tersisa, duhai raja nan agung?

Raja: Orang-orang Katya amat bernilai, Tuan Pendeta yang Mulia.

Lalu, kalimat simpai dari Buddha meluncur: “Apakah tidak cukup, lantaran air yang sedikit itu engkau harus melenyapkan orang-orang Katya yang amat bernilai?”

Mereka terdiam… beku.

“Duhai raja-raja nan Agung, kenapa kalian bertindak begini? Seandai Beta tidak hadir dalam majelis kerunsingan ini, apakah kalian akan mengalirkan sebatang sungai darah? Sebuah tindakan yang sangat tidak terpuji”.

Ihwal sawit? Apakah perang opini dan informasi ini hanya salinan dari riuh-rendahnya para juru sorak dari kedua belah pihak?

Ya, salinan akan kehadiran cheerleaders, yang mengharu-biru persoalan sejati; persoalan sumber energi yang layak dan terbarukan.

Kenapa meja runding tidak dihiasi dengan upaya-upaya ‘ahimsa’ nan bijak, yang juga berpembawaan profetik (nubuat)?


Leave a Reply

Your email address will not be published.