Sawit, Perang dan Gemuruh Tol

Ilustrasi: pcdn.co

#YusmarYusuf

 

Hidup menjadi mungkin, ketika kita berandai-andai dengan ketidak-mungkinan. Hendak hidup damai? Bersiaplah dengan sebuah perang. Kok bisa? Ya, perang adalah jalan politik keras, setelah buntu politik lunak (diplomasi) ditempuh. 

 

Bagi Vo Nguyen Giap; “Kalau pun kita terpaksa berperang, tujuan utamanya bukanlah membunuh orang, tetapi memenangkan perdamaian pasca perang” (not to kill people but to win postwar peace).

Sawit, komoditi turunannya, perang harga, pasar, alat bayar sawit, adalah permainan meja runding dan perang psikologis (psy-war) antara Timur dan Barat.

Barat tegak kukuh dengan “rukun imannya” mengenai sawit sebagai produk haram jakul (Western credo). Bagi Timur, sawit sejenis “salvator mundi” (juru selamat dunia bagi rakyat kecil; Eastern credo).

Bagi Giap lagi, “politik (runding damai) adalah lanjutan dari perang dengan cara lain”. Kebalikan dari dictum Clausewitz yang berbunyi: “perang adalah lanjutan dari politik dengan cara lain”.

Selanjutnya? Datang Jokowi sang Presiden itu membelah kebun-kebun sawit Sumatera dengan sebatang jalan raya nan tegak ranggi (tollroad): Menjulur dari selatan ke utara, ditambah tiga sirip menuju pantai barat Sumatera.

Ada apa? Ya, Jokowi menghidang ruang “runding damai” dan “sejumlah kemungkinan” yang tak bisa dielak pada suatu ketika kelak. Apa itu? Ya, bentang jalan tol (highway, express way, Autobahn) sebagai jalur runding dan daya saing bagi petani.

Selain itu? Ruang hodologis memanjang itu sejatinya adalah ruang dalam konsep pertahanan nasional (national resilience).

Jangan lihat jalur tol itu sebagai fasilitas untuk memindahkan orang dan barang. Juga tak sekadar sebagai reaktor ekonomi Sumatera. Secara “nasib” (destiny) pulau ini segaris layoutnya dengan Selat Melaka.

Artinya, garis tol yang membentang dari Selatan ke Utara itu adalah salinan Selat Melaka dalam wujud benua. Suatu ketika, hidup berjiran-tetangga tak semata damai, rindu, membuncah kasih dan sayang.

Ingat pesan tua adagium Inggris: “Semakin dekat hubungan darah, semakin besar pertumpahan darah” (near blood, bloddy, dan insya Allah jangan sampai ini terjadi, cukup trauma 1960-an saja).

Garis tol yang memanjang dan meliuk-liuk itu sejatinya adalah medan aero (tempat segala kekuatan udara/air force) ditumpu.

Posisi jalur angkut sipil yang damai, namun dalam keadaan darurat dia berubah sontak untuk medan pacu pesawat tempur jenis F-16, Sukhoi, Rafale, SU35 atau pun Skyhawk. Bayangkan medan pacu dengan panjang 1000 Km lebih, yang terhampar di atas dada Sumatera.

Betapa gagah dan menggerunkan posisi Indonesia di mata dunia? Dan lebih eksotik dari itu semua adalah lintas pacu yang menggelegar itu berada di antara kebun-kebun sawit rakyat dan perusahaan perkebunan.

Artinya? Petani sawit Sumatera berada di garda depan dalam pertahanan Negara ketika terjadi benturan fisik yang tak kita kehendaki.

Posisi terdepan yang dimainkan oleh petani dan kebun-kebun sawit rakyat, tidak hanya dalam era damai. Tetapi akan dibuktikan dalam keadaan konflik fisik yang bakal terjadi suatu saat. Diminta atau tak diminta.

Maka, rancang bangun highway ini sejatinya harus dipersiapkan dalam dua model (panggung damai dan panggung konflik).

Untuk itu, tak selayaknya median jalan tol ini dibangun partisi keras (tembok masif). Mestinya cukup dengan partisi lunak dengan mengikuti kaidah seni instalasi (installation art and street furniture).

Apa instalasi lunak itu? Ya, cukup menghadirkan tanaman yang mengedepankan unsur floris atau bunga-bungaan rendah sebagai ‘pulau jalan’. Sehingga ketika memasuki keadaan darurat perang (konflik fisik) dia dengan mudah disulap menjadi ‘aero-city’ dalam posisi menyerbu.

Partisi lunak ini mungkin bisa dibangun pada beberapa katup kritis ruas saja; misalnya di ruas yang bersisian dengan Selat Melaka, baik di Riau, Sumatera Utara dan Aceh.

Posisi garis Selat Melaka ini telah lama diterjemah oleh Malaysia di Semenanjung dengan kehadiran PLUS (Projek Lebuh raya Utara-Selatan) yang juga membentang dari Utara-Selatan; Perlis hingga Johor.

Konsepnya tetap sebagai garis lalu-lintas sipil kala damai, namun bisa beralih panggung ketika dalam kondisi kritis (konflik fisik antar Negara).

Sawit, membawa damai. Sawit juga bertugas menjaga perdamaian. Namun dalam keadaan darurat (konflik fisik), Negara menuntut lebih dari itu kepada petani sawit: Menegak damai dalam keadaan konflik. Tak sekadar menuntut, pemerintah Republik ini secara sadar dan (atau tak sengaja) telah menghadirkan infrastruktur pertahanan secara masif dan modern.

Fasilitas itu harus dimanfaatkan secara cerdik sejak dari rancang bangun dan aksesibiltas yang memudahkan pengangkutan produk kelapa sawit rakyat menuju “muara-muara olahan” di kilang-kilang strategis kota-kota yang bercermin Selat Melaka sisian pantai timur Sumatera.

Pada sebatang jalan tol yang memanjang, sejatinya telah bertaut sebuah keinginan damai, merawat damai dan mengawal kedamaian hidup warga semesta. Pun pada bidang tol yang sama, juga ruang serbu dan menyerang menjadi sebuah ‘proyek keniscayaan’ yang mesti disadari sejak dini.

Bahwa bidang runaway super panjang ini, bukan semata pusat gelegar ekonomi dan nadi finansial tanah Andalas, tetapi juga adalah pagutan sukma dalam model pertahanan Negara, di antara celah dan batang sawit, kerimbunan sawit dan ‘rumah-rumah Tuhan’ yang dengan sadar dibangun oleh para petani dalam kepungan temaram kebun-kebun sawit yang bak kesuma hati itu.

Panorama indah perkebunan sawit yang dibelah oleh jalur tol super panjang ini tak ditemui dalam langgam jalan tol di pulau Jawa. Tak sekedar indah dan menawan, sebuah fasilitas yang dibangun dengan kesadaran tinggi dalam pagutan peradaban dunia, hendaklah memenuhi kaidah dulce et utile (indah dan bermanfaat). Ya, dalam damai, ya pula dalam konflik…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.