Khutbah, Kelana dan Kebun

Ilustrasi: bworldonline.com

#YusmarYusuf

 

Agama-agama khutbah dan agama-agama kelana, bersua dalam cinta. Sang demagog (juru khutbah) memandu komunio dalam bentang gurun, di antara tangkai dan reranting zaitun. 

Di seberang serba “men-timur”, pengelana-kembara menyapa tubuh-tubuh orang dalam kaidah “bajik-alam” di antara rerimbun dan air gemercik. Satu nada: Cinta.

Kita boleh mengalamatkan semua perjumpaan “cinta” itu, laksana di atas hamparan kebun bertanah tandus, lalu melunak, berlumut, lembab, laman teduh-teduh, kaya perdu, sahut bersahut tentang ihwal serba merdu walau dari segala bunyi dan desah; pun desah harap yang dikumpul-kumpul menjadi doa komunio, doa perorangan atau “dividu” (bukan in-dividu; yang bermakna tak bisa dipisah/dibelah-belah).

Terma “in-dividu”, seakan ingin menegaskan sebagai entitas yang tak bisa dipisah-pisah, tak memiliki “retak dan keretakan” (fractal).

Sejatinya, sapaan itu adalah “dividu”, karena setiap diri kita bisa dibelah/membelah menjadi beberapa pecahan peran.

Peran-peran yang dibelah-belah itulah yang menghimpun cinta; baik oleh “agama khutbah” maupun “agama kembara” (kelana).

Agama-agama Semitic (khutbah) menerjunkan ayat dan kata-kata dari gundukan tanah meninggi (alias bukit); umat yang menyimak khutbah, wajib mempertajam indera dengar (kuping).

Lanjutan wajah bukit meninggi itu, disalin menjadi mimbar, mihrab, podium.

Bentuk negara-negara saat ini, melanjutkan warkat eksemplar agama khutbah itu dalam ragam pidato yang juga diselenggarakan di atas tempat meninggi (podium, mimbar, panggung).

Dimajeliskan lagi oleh partai-partai dalam siasat muktamar, konferensi yang menerjunkan arahan sepihak oleh pengembala kepada komunio gembalaannya, walau terasa hambar.

Pun, negara disadur menjadi kebun politik. Alias, Negara adalah nama lain dari kebun. Sebab dia terhasil dari satu rangkap keberasalan.

Jarak dan posisi yang tak sama antara pengkhutbah dan jamaah, maka kewajiban jamaah untuk menyimak lewat pendengaran yang (abstrak), lalu menafsir, mendiskusikannya dan menyampaikannya lagi melalui kanal “khutbah-khutbah mini” di suak kampung, kota-kota dan rimba samun.

Dari sini muncul kehebohan tentang suara dan bunyi para pengkhutbah. Derivasi (keberasalan), negara menyalin mentah-mentah pola ini menjadi sejenis himbauan yang menjamur dan menjemu. Apatah lagi di masa-masa pandemic ini. Inilah cinta yang dikemas melalui indera dengar, dalam kebun bernama negara.

Cahaya timur (iluminasi isyraqi), berkisah tentang indera lihat (mata) ihwal persaksian Tuhan itu adalah alam.

Alam adalah nama lain dari Tuhan atau sebaliknya. Pencahari kebenaran, menjinjing warkah mengelilingi lembah-lembah, mendaki bukit-bukau terjal, melandai, melereng, melingkar, meneraju ruh tepian riam, kesunyian muara, hulu sungai kaki gunung, menyepi sisian pantai, terkadang harus menegak, mengalir dan membanikan ajarannya bak resapan air, mendirus bebatuan, lalu batu mengelopak jadi bunga.

Sebelumnya, bebatuan padat didatangi dengan kepal tangan nan berdarah. Pun, dari darah yang mengucur itu menguntumlah bunga-bunga cinta.

Penghayat ini, menghimpun realitas surgawi (Divine) lewat tuntunan laku dan akhlak kemakhlukan. Berujar seperlu dan seadanya.

Kaidah-kaidah ajarannya, menjadi sebidang ‘kebun kebijaksanaan’. Dari ‘melihat’, terbitlah ‘dengar’ mengenai bunyi, desah, rintih, jerit dan raung alam.

Inilah kebun khalwat, seclusion style yang mempertajam mata batin…

Mereka membangun kebun dalam keragaman hayati tiada terperi. Mengasah cinta, melatih keseimbangan daya kendali antara diri dan kendali alam; ada hama, layu dan kematian tanaman demi melatih sabar.

Mengendali agresi, belajar menerima kenyataan bernada sasmita, merawat bejana spiritualitas, menyubur mood, percepatan penyembuhan (healing), memadatkan usia, mempererat interaksi kaum keluarga.

Kebun tak bisa disalin menjadi negara-negara. Sebab, di sini tiada pidato searah. Yang ada hanyalah juluran perilaku dan tindak diam yang dipanut dalam kaidah serba menahan, berlandas pada etika kemakhlukan. Agama yang tak ‘melembaga’ laksana Negara. Seakan sirna, tapi ada.

Istilah di kampung saya dulu, amsal kebun Yong Dolah; serba ada, semua tersedia, walau dalam takaran sebatang dan setangkai.

Perdu ada, gulma ada, sesai ada, lumut tersedia, petai, bengkuang, jering, nilam, gelam, punak, geronggang, perca, andalas, cempedak, nangka ada walau sebatang.

Jenis floris? Sejak bunga matahari, bunga taik ayam, empedal ayam, siantan, bunga raya, sakat buaian hantu, gandasuli, tanduk rusa, sampai rose yang berpeluh di planet Venus itu, jua menyemburatkan kegembiraan orkestrasi dan gelincir kaidah air di atas daun keladi.

Tentulah kerimbunan ini dinyanyikan dalam siul dan siutan berjenis burung dan serangga.

Kalau pun anda seorang pujangga atau sosok filsuf yang dikaitkan dengan sejenis “petani yang berkebun ide di atas planet bumi” ini, tidak lah perlu segan-silu meracik cinta yang dihidangkan oleh dua perkabaran cinta baik oleh agama-agama khutbah maupun melalui agama-agama kelana dari timur.

Semuanya, demi memperkaya batin dan mempertajam akal budi; karena kedua jenis kebun yang terungkai dari dua jalan (khutbah dan kelana) ini, menyuling tentang sucinya cinta, kudusnya kisah berbagi, sejuknya malam, benderang dan nyatanya sebuah siang menegak, kemayunya setangkai senja, tentang rindu datangnya rekah fajar.

Teringat saya akan lirik yang ‘diubah’ oleh Yanti (Sri Sulaksmi Damayanti, PhD), semasa dia belajar di École Maternelle dan École de Filles, Prancis tempat dia mendaras masa kecil bersama sang Ayah Daoed Joesoef, begini: “Dans le jardin de ma mère, les orchidées sont fleurit; Tous les oiseaux du monde viennent y faire leurs nids” (Di kebun ibu ku, bunga anggrek bermekaran,; semua burung datang untuk membuat sarangnya).

Pada sebidang kebun, persuaan cinta agama-agama khutbah dan kelana itu mempertautkan dirinya menjadi gembok yang terkunci… ngengat bercahaya, padu dalam redup tak menyilau, tak membakar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.