Khusyuk Feminin

Ilustrasi: nikmatislam.com

#YusmarYusuf

Ini bulan ibadah, bukan bulan ceramah. Sejatinya, ibadah diperbanyak, dipertingkat. Ceramah dikurangi. Sebab, ceramah itu berpembawaan tak mendengar suara hati, bahasa hati, dan kata hati. Hati, dalam konteks ini berada di antara ‘panggung’ nafsani dan spiritual.

Ceramah, senantiasa menggurui. Seolah-olah khalayak pendengar dianggap pendengar pasif. Bukan pendengar aktif, alias tak memiliki kemampuan memilih dan memilah. Sejatinya,  i’tikaf dijalankan dalam kesunyian, dalam kebersendirian, yang dihajatkan untuk mera’ikan ibadah dan menyemarak dzikir dalam ikhtiar mendengar dan melatih suara dan bisikan hati (nafsani dan spiritual).

Beberapa tahun ini saya tak lagi menghadiri jamaah shalat Isya. Sebab, di antara Isya diselip kegiatan ceramah yang mengabaikan “pendengaran” suara hati ini. Kisah ceramah, telah bergelayut sepanjang program radio dan televisi sejak senja hingga subuh merekah. Sejak siang menegak, hingga senja menyungkur, semua padat pepat diisi oleh serangkaian ceramah di media-media. Lalu, kenapa di masjid, surau dan mushalla, masih dihebohkan lagi dengan dentuman ceramah yang tergiring ke iklim komersial? Ada apa yang salah dengan kita? Saya datang melaksanakan tarawih (dulu, sebelum masa pandemi), pun selepas rangkaian ceramah yang menjemu, rangkaian ceramah yang menggurui dan pasaran, kodian.

Saya pun tak habis fikir, semestinya bulan yang penuh berkah ini, dilayani dengan serangkaian kontemplasi, mengurangi suara dan berbual, berbincang atau menceramahi orang lain. Bulan  yang mubarak ini, yang datang hanya satu kali dalam setahun, kenapa tak kita padatkan dengan sejumlah ibadah dan dzikir, perenungan dengan upaya mendengar suara hati dan melatih menyibak pandangan, pendengaran untuk masuk ke pendengaran dan penglihatan tabir kedua. Bukan tabir fisikal yang kita jalani sehari-hari.

Lalu, dalam ibadah, dalam doa dan dalam shalat, kita masih sibuk mengurus perkara konsentrasi, penyatuan diri nafsani dan diri spiritualitas dengan dzat Yang Maha. Kita masih disibukkan dengan formula untuk menjalani shalat yang khusyuk, doa yang khusyuk dan ibadah yang khusyuk. Begitu banyak buku dan formula yang dirumus agar shalat khusyuk. Kenyataannya malah kita diserbu oleh ketidak-khusyukan. Kian kita mengingat formula kekhuysukan itu, makin tidak khusyuk pula shalat dan doa kita. Ketidak-khusyukan itulah kekhusyukan sesungguhnya bagi manusia. Maka jalani saja ibadah, laksanakan ibadah, doa dan shalat sebagai keperluan dasar (need), bukan sebagai kewajiban (order). Perkara khusyuk, sejatinya masuk dalam domain jamaliyah (sisi feminine). Ini domain Tuhan nan lembut dan merdu.

Setiap individu yang melatih “panggung” nafsani dan spiritual, lama kelamaan akan menajam, bisa melihat dalam penglihatan nafsani dan spiritualitas. Bisa pula mendengar dalam dimensi ‘layar kedua’. Semuanya berlangsung dalam latihan dan riyadhah yang seksama. Dia bukan lagi ibadah sebagai jalan umum. Tetapi, sebuah jalan yang “tak biasa”. Seseorang bisa mendengar denting musik Surga, bahwa di Surga ada bebunyian, musik Surga dan itu hanya bisa didengar oleh mereka-mereka yang melatih dan terlatih dalam “panggung” nafsani dan spiritual. Di mata kita ada pembatas, dipasang tirai, sehingga kita tak bisa melihat apa-apa yang ada di belakang tirai itu. Namun berkat latihan batin dan spiritual, kita mampu menyibak tirai itu dan mampu melihat alam sebelah sana. Juga pendengaran di sebalik sana. Sama halnya, mata dibatasi tirai, demikian pula telinga juga dibatasi tirai. Maka singkap dan sibaklah.

Dunia tasawuf memperkenalkan sisi jamaliyah Allah dalam sejumlah kelembutan, bunyi nan damai, panorama pasifis, sasmita, gelembung oasis di sepanjang perjalanan. Maka, ketika orang membincang dimensi khusyuk, kita tak bisa melepas diri dari ungkapan tasawuf dari Syaikh al Akbar (Doctor Maxima) Muhyiddin Ibn Arabi, bahwa: “Kalau kamu ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, maka jadilah kamu seorang perempuan”. Wah,..  sebagai makhluk, perempuan ialah sisi “wajah Tuhan” yang lembut-teduh, jeluk, jamil, halus. Dia jelmaan kelembutan Tuhan. Dan kenapa begitu dekat kaum perempuan dalam himpunan ibadah, masjid diisi oleh kaum perempuan, ruang-ruang suluk begitu ramai jumlah kaum perempuan, majelis dzikir begitu gempita kaum perempuan, dan kaum ini tak saja hadir dalam kuantita, tetapi juga kualitas ibadah, intensitas ibadah, frekuensi ibadah, begitu tinggi dan kencang.

Namun, tersebab peradaban dan kebudayaan manusia di muka bumi didominasi oleh nilai patriarkhi, maka selasar “wajah” lembut Tuhan lewat makhluk perempuan itu, malah disia-siakan. Lihatlah, jumlah kaum yang paling banyak melangsungkan ibadah  puasa di luar ramadhan, kaum yang paling lasak dan khusyuk melaksanakan ibadah-ibadah sunah seperti shalat dhuha, shalat malam, rawatib, dan seterusnya adalah  kaum perempuan. Nah,… hari raya yang berlangsung dalam hitungan jam ke depan, sejatinya adalah wilayah pemanenan  keindahan feminin (feminine harvesting). Hari ini, disebut sebagai ied, lalu dia menyimbolkan kemenangan dari suatu perang.

Namun peperangan yang dilakasanakan selama ramadhan bukanlah perang dalam kualitas maskulin. Tetapi perang dengan rasa feminin; melalui peristiwa menahan (imsak). Bukan perang dengan sejumlah simbol dan elemen ofensif, tetapi lebih banyak dan sarat dengan simbol dan elemen defensif (bertahan); alias tak menyerbu. Namun, bertahan dalam diam yang kukuh dan membatu. Puasa, menyunting simbol-simbol itu dengan damai dan menawan. Maka hormati dan tinggikan harkat hari raya iedul fitri dengan rasa dan suasana feminin, dan runtuhkan kesombongan maskulin, dengan cara memberi maaf dan meminta maaf. Kita hanya melangsungkan sebuah perjalanan pendek di muka bumi ini. Basahi jiwa, dengan kadar nafsani dan spiritualitas yang kuyup, sekuyup rasa feminin yang dijelmakan oleh uluran sebilah tangan perempuan yang menyapu dahi seorang bayi. Dengan lembut, hanif…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.