Kebun, Kehendak-Jahat (?)

Ilustrasi: wallpapertip.com

Bentang kebun nan menawan, hinggaplah anggapan akan kecintaan langit. Dan, manusia menjatuhkan dugaan (dalam anggapan spiritual); Inilah taman Surga alias Eden Garden. 

Adam bersua dengan segala hal di atas bentangan kebun: Belajar dan mengeja segempita nama-nama. Di balik itu? Adam juga diperkenalkan tentang “kehendak-jahat”.

Lalu, apakah Tuhan sebagai penyebab pangkal dari “kehendak-jahat” itu? Adam dilarang mendekati batang kayu, apatah lagi memakan buah dari pohon itu. Ada dorongan dalam diri Adam untuk memakan buah larangan.

Ya, kisah dosa, kehendak-jahat, berawal dari sebidang kebun. Adam ‘dihukum’ karena mendatangi dan memakan buah terlarang. Lanjutannya? Adam dan segenap bani turunannya menjadi ‘migran terbungsu’ (na burju) di atas planet pertiwi bernama bumi.

Seakan tak jera dengan peristiwa kebun dan berkebun, anak-anak Adam diperkenalkan kembali tentang kemuliaan kebun. Tersebutlah generasi pertama (Habil) yang menjadi penyelenggara kemuliaan kebun dan perkebunan.

Hukuman terawal bagi manusia itu adalah didera selaku pengelana muka pertiwi. Dalam deraan, ada kesedihan, kepiluan, kerundungan, kemurungan. Lorong kemurungan ini menjadi sandi utama bagi Adam untuk menemukan kecerahan cahaya, gemintang sentosa indahnya cinta.

Andai kisah awal dari penciptaan kosmis itu dimulai dengan serba ceria, maka teater kehidupan ini akan berhenti dengan terjunan dan hamburan sejumlah cahaya dan sinar kecerlangan, ya serba cerlang. Teater itu tak lemak lagi untuk dipersaksikan.

Tragedi dan korban amat diperlukan dalam selorong penceritaan. Agar dia bisa beranak-pinak, dicelup dalam rerangkai kisah yang menebar iktibar di kemudian hari.

Spinoza, seorang filsuf yang dikeluarkan dari komunitas iman Sinagoge (dan inilah impian dia), membangun konsep ‘kesetaraan’ yang amat wangi di zamannya: “Tuhan dan alam, maka adalah alam”.

Ketika konsep kesetaraan itu dilekatkan kepada anasir lainnya bernama manusia, maka dia akan memberi dampak kepiluan: “Manusia dan alam = tragediManusia dalam alam = petuah salehManusia melawan alam = korban“.

Spinoza memajeliskan ranah pemikirannya dengan memberi ‘ruang bagi Tuhan’. Tajalliat ala Ibn Arabi kah? He he. Yang jelas Spinoza ini aliran Cartesian. Ibn Arabi dikenal dengan julukan ‘Ibn al Aflatun” (Puteranya Plato). Juluran jauh ke belakang zaman tentang sengsara dan kepiluan amat dekat dikaitkan dengan Buddha yang juga berawal dari kisah sebidang kebun dan pohon Bodhi.

Maka, andaian filosofis dari Spinoza bisa memaku renungan kita sejenak; “Kita tak hidup, kita hanya menjalani kehidupan semu. Kita hanya berfikir bagaimana caranya menghindari kematian dan seluruh hidup kita, tak lebih dari sejumlah sembahyang kematian”.

Di atas sebidang kebun kita, menemukan kehendak-jahat, di atas dada kebun kita menjalin cinta, dalam kerimbunan kebun kita berdoa, dalam kepungan kebun kita menjatuhkan sujud terdalam, dalam kepingan kebun yang terpanggang kita menyusun pedih, di atas kepongahan piranti kapitalis kebun kita menggenggam tirani dan membariskan para budak hamba-sahaya.

Dalam kebun ada kesalehan, duka, lara, murung, ceria, mulia, luhung, gelap, kotor, jorok, ledah yang menjadi sebatinya kehidupan yang semu itu. Dalam kebun, sayap-sayap malaikat bersauksauk dengan kuping raksasa para iblis (perselingkuhan kebaikan dan kejahatan) yang berujung duka dan pedih: pelemparan harkat martabat manusia ke ujung tebing peradaban.

Tak sedikit kisah kelam yang berlangsung dalam kebun, seakan merayakan kisah Eden Garden dan keterlemparan maha dahsyat sebagai pengelana papa (kedana) yang diperan Adam berkurun tahun.

Di dalam kebun, kekerasan seksual menjadi cerita diam dan miris. Kekerasan seksual kepada anak, jejaring obat terlarang (bak buah larangan era Adam) berkeliaran dan saling ringkus dalam sejumlah penceritaan yang tak pernah selesai.

Di dalam kebun, isu “trafficking” (human and ware) juga membayang-bayang dan menjuntai. Para oiketai yang menyusun harap pada persimpangan empat di antara batas-batas kebun, tak tau hendak
menghala (mengarah tuju) ke mana. Mereka dikejar hutang, ditunggu sanak keluarga dalam saukan rindu berjenang.

Semua kebuntuan kisah yang terkandang di dalam kebun-kebun merimbun itu, selalu diupayakan untuk dijelaskan kepada dunia, kepada ruang-ruang jauh dan kamar-kamar sejuk pusat kuasa.

Penjelasan itu selalu mengalir dalam penjelasan “sains yang kaku’, terkadang dikemas dalam ‘puisi yang menggairah’.

Ujung-ujungnya? Meletuplah pemberontakan para oiketai dalam kaidah revolusi para pariah, para marhaenis yang memikul duka, memanggul kepiluan, mengusung sengsara bak Adam, Habil, dilanjut oleh Buddha, selanjutnya dimajeliskan para anbiya (nabi-nabi) gembala sejak Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad.

Bedanya? Revolusi pariah-oiketai itu sama sekali tak mereka mengerti apa ujung dan matlamatnya (tujuan). Sebuah revolusi yang berputar-putar dalam lingkaran setan, dalam majelis kedunguan, dalam kebuntuan moral, tanpa cita etik terpuncak dan tersayup. Saling bantai- membantai, tuduh-menuduh, yang berlangsung dalam sebuah ruang gelap kelam.

Setelah keluar dari ruang gelap itu, semua wajah melepuh, lebam dan bengkak-bengkak. Hasil dari pertinjuan dan saling baku-hantam di dalam ruang pengap bernama kebun-kebun pilu, kebun-kebun beku, kaku, penuh kisah serba laten (tak muncul ke permukaan).

Berkat pendekatan pakar deep ecology, filsafat yang bak mahligai tinggi itu, dijinakkan menjadi filsafat tindakan. Dan figur utamanya adalah Baruch Spinoza yang berpembawaan miskin, menolak ceria, bergumul kemurungan, kemuraman dan segala ihwal perih dan pilu.

Diri dan tubuhnya lah yang jadi obyek kajian tentang kehidupan itu. Dia membangun jamaah mungil semacam “Amor intelectualis Dei” (Cinta intelektual kepada Tuhan). Oh, Kebun. Di mana Tuhan?…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.