Andai Balam…

TROPICAL GARDEN: dennishundscheidt.com

Ya, sudah ku katakan. Bukan nama burung aja si Balam ini. Dia sebuah nama tempat di Rokan Hilir. Posisinya strategis. Menjadi media persambungan ihwal Utara dan Selatan secara merkatori. 

Sebuah cangkok pengkait relasi antar kaum yang bergerak dari Utara, kaum dataran tinggi (Batak-Karo Highland), kaum sepanjang pantai Timur Asahan dengan orang-orang Melayu tempatan.

Balam juga dikenal sebagai salah satu ‘sawah minyak’ dalam area gigantis Blok Rokan. Balam, perkampungan yang rebah di sepanjang jalan Lintas Timur Sumatera yang super sibuk itu.

Jangan lihat Balam yang dipagari pipa raksasa dan pompa angguk. Namun, di belakang kampung ini terhidang saujana hijau memukau. Dulu hutan rawa tropis dengan khazanah nabati dan biodiversitas yang terlalu kaya untuk disenaraikan di sini.

Walau masih ada sisa secuil, paling tidak hutan rawa ini bisa menjadi tautan hati, menjadi album tentang kekayaan tanah Sumatra pantai timur, perjalanan panjang makhluk endemik rawa pantai timur.

Saat ini, telah terjadi persalinan ruang yang sebelumnya tetumbuhan (hutan) berubah menjadi kawasan tanaman (perkebunan sawit) yang produktif. Ya, perkebunan dalam era ini adalah sebuah keniscayaan.

Ketika ruang-ruang senyap yang tak dilintasi manusia (1980-an), kemudian berubah menjadi kawasan penghubung gerak manusia dan barang yang menggairahkan kota-kota utama di Sumatra, dengan sendirinya Balam menjadi lirikan mereka yang melintas dan berlalu lalang.

Apatah lagi di situ ada basecamp dan sumur minyak yang bersauk-sauk. Ini saja sudah menjadi variable penggoda kedatangan insan dari negeri-negeri jauh ke Balam.

Maka, kampung Balam pun boleh berandai-andai. Dia tak perlu menerjemah gemuruh yang diperankan oleh Baganbatu sebagai pusat reaktor-ekonomi Bagan Sinembah (bahkan Rokan Hilir).

Balam harus mendatangi dunia Sumatra dan Indonesia dengan pagutan hati nan serba redup, teduh, rimbun dan hijau.

Menggoda dengan sahut-sahutan bebunyi bak burung Balam itu sendiri; terkesan bunyi angguk yang saling bergiliran secara berhadap-hadap (gentlemen?). Tak jantan, tak betina. Tetap dalam angguk yag berhadap-hadap, bukan oposisionalHe he he…

Modalnya? Ya, perkebunan besar yang terbentang di kawasan itu. Bukan tak mungkin melalui bekal kebajikan ekologis, sang pengusaha atau pun kumpulan petani sawit atau pekebun lainnya diajak dalam jamaah kesadaran dan keinsyafan ekologi dalam gerakan bina-mulia tentang ‘sejarah tanah’ itu sendiri.

‘Sejarah tanah’ ? Ya, kalender waktu dan ruang tentang ‘sejarah tanah’, yang terbaik adalah melalui upaya bina-mulia atau menghadirkan kembali tanaman endemik (asal tanah ini) dalam kemasan yang lebih modern.

Apa bentuk modern nya? Ikuti saja beberapa gagasan MDGs (Millennium Development Goals) atau pun SDGs (Sustainable Development Goals).

Ikuti pula ide tentang pembangunan Ibukota Negara di Sepaku Penajam Paser Utara Kaltim yang bercita-cita menjadi kota hutan tropis.

Balam? Modalnya sudah amat layak dari itu. Kita tak mengubah dan menggubahnya menjadi tataran kota.

Tetapi kita ingin melebarkan semangat hijau, rimbun, redup dan teduh itu dalam sungkupan yang lebih alami menawan.

Apa maujudnya? Ikuti lagi gerakan pengadaan beberapa kawasan di Indonesia demi menghadirkan Kebun Raya, selain Bogor.

Batam di Kepri telah menyambut ide ini. Mungkin Balam boleh menyibukkan diri menghadirkan semacam “Balam Tropical Garden” berbasis kekayaan hayati rawa-paya (swamp area) dengan kekayaan yang khas dan tak terduga berbanding “kebun Raya” yang sudah ada dalam “benua minda orang Indonesia”.

Dia bisa menjadi “pusat riset herbal-medico” yang berbasis kekayaan hayati rawa-paya (dalam idaman Sumatra pantai timur).

Bagaimana menggelorakannya? Kita yang membuka kebun sawit dalam ukuran gigantis di Kampung Balam, kenapa segan dan malu menyisakan barang 5-10% dari luasan bentang kebun dengan tidak mengganggu struktur dan bidang tanaman hutan khas Balam: Hutan asli tak dicabik.

Biarlah dia menjadi pelantar jiwa untuk menyambung ‘memori” manusia yang mendatangi kebun itu secara romantik ke masa-masa arkhaik (purba) bagaimana rebahan rawapaya itu bangkit membentuk dirinya menjadi ruang produktif bagi persemaian tambang mineral (minyak bumi) dalam kurun ratusan tahun.

Sehingga kehadiran “Balam Tropical Garden” memiliki persandingan pula sebagai “museum alam” tentang kekayaan mineral dan tambang minyak di Riau khususnya.

Dari sini, terseruak model kerjasama yang boleh dirakit; bisa dengan KLHK, BUMN yang bertugas eksplorasi dan eksploitasi tambang minyak (Pertamina?); seraya menggerakkan kesadaran dunia, bahwa sebuah pekerjaan besar sekelas “Tropical Garden” boleh dilakukan secara swadaya dalam mental spartan kelompok tani.

Artinya, Kebun Raya Tropis ini tidak sibuk meramu gaya-gaya serba elitis dalam upaya menghadirkan sebuah “Tropical Garden”.

Biarkan Balam mendatangi kita dengan watak teduh, redup dan rimbunnya dalam kekayaan yang tak berkembar dengan gaya Baganbatu.

Mungkin atau tak mungkin? Semua tergantung dari niat kecil dari seorang petani yang bermimpi besar tentang ‘sejarah tanah’ demi menghadirkan kalender perjalanan sebuah tanah raya bernama Sumatra…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *