Teratak Jesuit: Seclusion Style

Ilustrasi: madisonadvisors.com

#YusmarYusuf

Dan,… persumpahan itu pun terjadi. Bersumpah ala kaum muda yang mengikat diri untuk hidup dalam langgam melarat. Sekumpulan intelegensi muda ‘menganiaya usia’ dalam gaya menghapus pagi, menyongsong senja. Menggulung kesombongan dan kepongahan dalam cita seekor trenggiling. 

Tersebutlah nama seorang muda Inigo Lopez de Loyola (alias Ignatius Loyola). Dia sosok teraju bagi kaum muda Universitas Paris dan mengambil tahun almanak 1534 bagi terbitnya sebuah persumpahan agung: “Bersumpah untuk menjalani hidup usai studi demi persaudaraan yang terikat dalam kemiskinan sejalan dengan perkabaran Injil, dan mengemban perutusan ke Jerusalem”.

Kaum muda lusuh ini mengikat diri dalam “amigos en el Senior” (para sohib di dalam Tuhan). Sifatnya? Ya, “terikat dan mengikat”. Mereka mengembara dalam semangat ruang tak berbatas dalam gaya seadanya. Persyarikatan ini dalam bahasa Latin dikenal dengan sebutan Societas Jesus, di bawah cogan bercahaya “Iesu Hominum Salvator” (Jesus Sang Penyelamat manusia).

Selanjutnya? Hidup miskin yang melar, kesederhanaan nan mekar; merembes dan menyerap apa-apa yang ada di depan batang hidung dalam ketegaran nan spartan. Menyapa tanah-tanah jauh, tanah liar, tanah-tanah yang seakan kehilangan “kuuur semangat”, tepatnya di Maluku.

Inilah tanah pertama tempat mekar dan melarnya gaya hidup secukupnya (miskin) ala para amigos en el Senior ini bertapak di Nusantara, sembari meringkus kesombongan dan kepongahan hidup. Mereka menekuni jalan hidup pastoral alias seclusion style kaum muda.

Kumpulan bohemian spiritual ini dalam sapaan Melayu disebut sebagai “Serikat Jesuit”. Keluar masuk kampung-kampung, pelosok jeluk, menikam ruang-ruang hampa dalam gaya spartan dan bohemian, bergulat dan bergelut dalam kehidupan kaum papa (kedana) baik di tengah maupun pinggiran kota.

Di kota-kota yang gemeretap, mereka merawat tradisi kepenulisan yang ranggi; satu di antara hasil “air tangan” mereka adalah majalah Basis (Yogyakarta) yang amat Falsafati.

Sekolah Tinggi Filsafat di satu titik Nusa Tenggara (Timur). Menegakkan tiang agung dalam tradisi keilmuan dan menjauhi tabiat “merampas” segala bentuk karya orang lain, membentuk majelis intelektual di dalam suasana kebun dan majelis pembaca besar, juga dalam gaya berkebun dan kerimbunan tropis.

Anda bisa lihat beberapa kebun (gardenjardin) tropis yang menghias ‘bingkai spiritual’ ini (desiran air dan sling dedaunan bambu) di pinggiran Sleman dan Salatiga, dalam semangat Kateketik: Satu dari sekian bentuk selasar alam yang menjulurkan lidah mistika-nya agama.

Para jauhar berkata; Alam tambah Manusia, itulah Seni (A+M=S). Termasuk seni memikat alam  batinnya semua agama. Manusia harus melekat dan menempelkan diri kepada alam. Semua itu dilakukan demi runduk, tunduk, patuh, taksub, taqwa demi memupuk cinta.

Pada alam ada lekatan adesif perangko cinta. Kita dianjur dan ditugaskan untuk menempel terus pada kaidah lekatan adesif bidang belakang kertas perangko itu.

Membujuk dan merayu alam dalam gaya seadanya (kebun dan tani) menjadikan lem  lekatan  ini  menjalani  proses cas ulang (lem ulang). Demi meringkus kesombongan dan keangkuhan duniawi, seraya menyapa kejuwitaan dan keramahan samawi.

Hari ini, berkebun bukan lagi demi mempertajam kehalusan akal budi, tetapi lebih ingin  mempertotonkan kepongahan duniawi; luas, lebar, ekspansi lahan.

Kemaruk dalam pembakaran lahan saban tahun dan seterusnya. Berkebun tak lagi diiringi ‘rasa seni’ untuk mengasah sensitivitas spiritual (mata batin dan ruh). Sang pemilik kebun besar itu, tak sekalipun pernah bertandang mendatangi kebun dan bersua dengan sejumlah pekerja kasar (petani atau pun buruh tukang yang pariah) itu. Kalau pun datang berkunjung, hanya melempar sergah dan segala salah yang dialamatkan kepada sekumpulan oketai-pariah.

Hari ini, orang-orang berkebun demi prestise sosial, demi menjaga relasi dan jejaring dengan penguasa politik yang berkacamata kuda. Walhasil, mereka-mereka yang memperkaitkan dirinya selaku petani sawit, sejatinya adalah maujud penguasa dan pengusaha kebun sawit dalam gaya serba bossy bourgeoisie (atau petit bourgeois); yang cekikikan seraya menyeruput soda dan kopi menebuk malam di pucuk-pucuk menara tertinggi sebuah metropolitan yang ada di Singapura, Kuala Lumpur dan Jakarta. Dalam tampilan ruang berpendingin gaya metro-seksual serba bohayyy.

Juluran lidah alam sebagai maujud selasar akal budi dan dimensi mistika-nya agama-agama, tak jadi penanda, tak jadi penyerbuk yang memperkaya mata batin. Sehingga, kita berkebun bukan untuk dijadikan sebagai pupuk merawat kesalehan, memuai kebajikan, belajar memberi dan mengeja bagaimana lemak dan indahnya berbagi.

Kita menjadi sekumpulan orang-orang yang maniak dalam dunia serba ekspos dan demonstratif; pembagian masker selama masa pandemic dan hand sanitizer diledakkan dalam ekspos besar-besaran dalam gaya serba istana.

Kita memaksa tampil gaya anak-anak milenial dengan mengangkangi Sneaker terkini, tapi tetap tak menghilangkan gaya serba istana sentris. Kita yang memperkuda peristiwa kebun dan berkebun sebagai majelis mempersunting kemewahaan duniawi, bukan demi memperhalus ‘kata hati’ dan mempertajam akal budi.

Tujuan berkebun telah dibajak oleh para kapitalis dalam kepentingan pasar dan nafsu-nafsi yang tiada ujung dan tak kan pernah selesai…. Lalu dia menghadirkan sejumlah bengkalai-bengkalai.

Sidharta sang bangsawan itu juga menolak singgasana. Dan dia memutuskan diri untuk bercengkerama dengan sejumlah penanda. Bagi Sidharta yang sedari lahir sudah bisa tegak dan berjalan mengarah utara itu, bahwa kehidupan di luar istana dirangkai oleh bermajelis penanda-penanda.

Dia bersua dengan orang tua (kenapa tua?); berjumpa dengan orang sakit (kenapa sakit?); bertemu dengan orang mati (kenapa mati?); lalu bersua dengan seorang pertapa (kenapa dan mengapa…?).

Serangkaian penanda dan sejumlah tanya. Sejulur tanya, dan setumpuk duga… Inilah kehidupan demi meraih Cahaya Sempurna (Buddha). Berkebun, ternyata punya khittah.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.