Segala Hutan Segala

FOREST: eskipaper.com

#YusmarYusuf

Adalah selarik kiasan sebegitu awal bersarang di dalam hutan yang tak lepas dari hakikat ihwal dan permulaan zahir. 

Permulaan ternak yang semula jadi adalah hewan. Di dalam hutan segala mitos merawat diri, terpampang. Di dalam hutan segala mimpi tentang kelengkapan hidup bisa diayak menjadi acuan apa saja, tak pengecuali adat.

Itulah makanya segala tamsil, segala umpama, segala kias, dan segala sampiran menjelaskan bahwa hutan adalah gudang ungkapan seberlambak samudera.

Hutan adalah ruang dengar segala nada dari segala sumber yang berbunyi, bahkan dalam hutan, cungkup mitos, adab ber-Tuhan atas segala mimpi masa lalu dan masa depan terangkai “diam”, lalu senyap.

Berbanding terbalik saat hutan bersentuhan dengan tangan-tangan kapitalis. Hutan tak lebih dari sekadar lipatan dan lembaran yang terperangkap pada mainan cukong hingga politisi.

Maka taklah aneh kalau ada menteri yang dihajat mengurus hutan, tapi hutan malah segera hancur. Sementara ada negeri-negeri nun jauh di benua lain, tanpa menteri yang mengurus ihwal hutan, hutannya malah kian rimbun.

Hutan dah berubah segaris dengan kehidupan yang berbuncah. Manusia bertambah, hutan bergeser makin jauh di ujung kampung, dan mencari ujung-ujung yang baru lagi.

Dari hutan manusia membangun kota dan pencakar langit hingga orang tempatan terpelanting di ujung peradaban dan menjelma seolah penumpang gelap di tanah leluhur.

Para pendatang yang beruntung membeli lahan sedepa untuk menyambung hidup kemudian dipersalah oleh mereka-mereka yang di atas; kok menebang, kok membakar, kok…

Aras kesadaran yang sadar pun tersentak; telah terjadi adu domba antara pendatang dan orang tempatan.

Padahal dalam kisah hutan tak semestinya hadir pertentangan antara pendatang dan tempatan jika mereka hadir oleh alasan menyelamatkan hidup.

Yang semestinya menjadi persoalan adalah saat para cukong dan pemilik lahan yang membangun kultus eksklusifitas tanpa perduli hutan lindung oleh kerakusan menanam dan menumbuhkan tangis.

Hari ini, tanaman produksi berbasis kebun para cukong yang meranggaskan hutan diamankan oleh dalih investasi. Sementara tanaman rakyat diganggu dan ditebang.

Rakyat lalu bertanya pemerintah hadir untuk kepentingan siapa, untuk para cukong kah atau untuk dan demi rakyat?

Terlalu melangit jawaban yang curah di saat hari-hari kita terus membicarakan nestapa rakyat kecil padahal sesungguhnya kita bagian dari rakyat kecil itu.

Kita terlahir di tengah-tengah suasana serba minus rakyat kecil itu. Kepompong rakyat kecil tempat kita keluar dan dibesarkan itu, belum berjarak demikian jauh dalam garis masa lalu.

Rakyat kecil dan miskin itu, sejatinya belum begitu jauh dengan diri kita hari ini. Sebab jika ditarik garis datar ke kiri atau ke kanan, ada sepupu kita yang terbelit oleh kemiskinan berjenjang dan berjenang.

Dan jika ditarik pula garis tegak vertikal maka ada keponakan dan paman kita yang masih dibelit oleh sabuk kemiskinan yang menyesakkan.

Hutan dan kekinian menjadi sebuah persoalan rumit lantaran hutan dengan segala status itu telah menyajikan suasana cul-de-sac, tak hanya bagi rakyat tapi juga bagi pemerintah daerah yang ingin membangun.

Sebab dalam peta tata ruang nasional negeri kita bernama Riau ini berada dalam status ragam hutan.
Kampung-kampung yang kita bangun berabad-abad, tempat orang mengolah rindu keindonesiaan itu, rupanya berada dalam hutan yang lebat dan tak berubah.

Seakan di sini tiada peradaban, tiada kehidupan dan tiada manusia yang bergerak. Padahal perusahaan Paman Sam sudah menarik teraju untuk pulang oleh kepundan minyak bumi yang sudah menganga kehabisan lumuran.

Teramat sulit menemukan jawaban yang sangat sederhana tentang Indonesia dengan perpanjangan mata dan telinganya bernama menteri kehutanan, sampai hari ini sama sekali tak dapat melihat kenyataan bergerak dan berubah dalam dimensi serba progresif itu.

Di sini ada kawasan pabrik, ada kawasan industri, pendukung industri, pergudangan, kawasan
bisnis, perkantoran dan pemerintahan sejalan dengan pemekaran wilayah administratif.

Perkembangan cepat dan serba lekas itu seakan tak ada artinya bagi manajemen dengan hati yang “mati”. Tak cukup marwah negeri ini yang diceruk berabad untuk menghidupkan sekelebat saja kematian itu.

Asas diskresi memberi ampuan kepada kepentingan rakyat dan orang banyak di saat suatu perundangan demikian kaku menerjemahkan kenyataan bergerak dan berubah itu, telah dikubur di dalam bayang keakuan.

Padahal kepentingan dan demi asas penyejahteraan rakyat semestinya lebih dikedepankan ketimbang kita berpaut pada perundangan yang kaku dan membunuh kepentingan orang banyak itu. Perundangan yang sesungguhnya masih harus diterjemahkan oleh akal waras yang tak latah.

Hutan di Indonesia seakan berbicara lain. Hutan tetap hutan walau kenyataan di lapangan sebatang kayu hutan pun tak bisa ditemui lagi sebagai gejala tumbuhan.

Sebab segala tumbuhan itu telah berganti oleh serangkaian tanaman, alias telah diolah menjadi kebun. Di sini ada manusia dengan kebudayaan yang bergerak progresif sejalan dengan percepatan zaman.

Hutan dan kita tak lebih dari akal-akalan orang singkat fikir, dangkal rasa dan ketiadaan rencana mengenai masa depan yang bertujuan untuk kehidupan yang berbahagia kepada mereka yang dibelit nestapa.

Hutan dan kita di negeri ini telah berubah menjadi serumpun ironi yang tak terperi oleh akal tak sehat.

Hutan dan kita, hanya menunjukkan bahwa Negara ini memang rapuh saat berdepan dengan serombongan cukong selaksa cuan.


Leave a Reply

Your email address will not be published.