Menggeser Perabot

Ilustrasi: amazon.com

#YusmarYusuf

Manusia adalah migran paling bungsu terdampar di muka bumi. Namun, ego si bungsu pula yang paling dominan mengatur segala hal dan ihwal di atas pertiwi ini. 

Semua harus merujuk pada kepentingan manusia; sudut pandang kita, maunya kita, manfaat untuk dan demi manusia, memberi untung demi peradaban manusia: ya, antropo-sentrisme namanya (sesuatu
berpusat pada serba manusia).

Agama juga dikonstruksi untuk kepentingan manusia. Alias, agama pun mengalami pembatinan dan perayaan nilai antropo-sentrisme.

Lalu, apa kerja si bungsu yang pongah ini? Mereka menyebut, apa-apa yang dilakukan dan diperbuat oleh manusia di muka bumi adalah: Pembangunan, developmententwicklung dan seterusnya.

Sebuah kerja agung, demi peradaban. Seakan-akan makhluk lain tak boleh membangun peradaban dalam versi mereka. Pembangunan, sebuah kata nan gagah, sebuah nilai berpembawaan jumawa.

Padahal, sejatinya apa-apa yang dilakukan oleh manusia di muka bumi selama ini tak lebih dari peristiwa “menggeser perabot”.

Semuanya demi mainan mata belaka. Hari ini, alih perabot jenis tertentu dalam formasi diagonal (agak garis miring); agar terkesan dinamis dan progresif.

Minggu berikutnya, geser lagi dalam formasi melingkar (kesan keabadian dan lunaknya peradaban).

Bulan kedua dan seterusnya, menyusun dalam format vertikal, horizontal, di tambah efek hijau dan floris, diimbuh dengan warna krem alami, khaki nurture, dan diberi sedikit efek gradatif dalam mainan “pencahayan” alami, sehingga terkesan lunak dan halus.

Kita memiliki kesadaran akan ruang, terkadang mudah jemu akan waktu. Kisah geser-menggeser perabot ini, membuat bumi ini senak, jenuh dan gayang. Sehingga akhirnya terkesan oleng, dan lalu menyemburkan sesuatu yang bernada “meriang”, “mendemam”.

Selanjutnya, memerlukan perlakuan baru ke atas bumi yang dihuni manusia yang terlalu dominan bertindak itu; seakan-akan dialas oleh sebuah perbuatan yang tak pernah selesai.

Kayat sepele dalam kisah pemindahan perabot ini, diletupkan secara bangga, seraya menepuk dada oleh kita (manusia) sebagai kegigihan membaharu, memberi sentuhan baru, menemukan sesuatu yang baru yang seakan dapat menyelamatkan pondasi dan bingkai hidup manusia selanjutnya.

Padahal majelis pembangunan yang beralas pada ragam ideologi itu sejatinya tak lebih dari upaya “penyelamat kehidupan” (survival kit) yang terikat oleh waktu dan ruang.

Tak ada yang abadi di atas semua perbuatan manusia muka bumi, semuanya bersifat niskala. Yang abadi di atas planet bumi ini (jelang kiamat) adalah adaptasi.

Untuk semua itu, jargon handal yang senantiasa ditiupkan pada setiap zaman adalah kemampuan adaptasi; baik secara diri per orangan, komunitas, atau warga negara dalam merespon semua peristiwa dan kejadian yang melingkungi kehidupan muka bumi secara terus menerus dan simultan.

Setelah mengurung diri hampir lebih dari satu tahun, kita masih berdepan dengan realitas;
kenaikan angka terserbuk Covid-19 di Indonesia tak jua melandai. Bahkan pada beberapa titik cenderung mendaki. Vaksinasi baru berjalan tertatih-tatih.

Menghadapi kenyataan ini, tiada jalan lain; kita mencoba alternatif semacam “herd immunity” (kekebalan komunitas) yang mengedepan gaya hidup; pola makan, hidup sehat, melakukan jarak secara fisikal, akrab dengan peristiwa “bersuci” dengan air, menjauhi paparan langsung pada wajah dengan masker, jauhi kerumunan, hindari desak-desakan dalam moda angkutan massal, mengurangi tampilan serba amboi dan bohai dalam moda angkutan massal lewat upaya mengurangi berkomunikasi via telepon, demi menghindari droplet dari mulut ketika berbicara.

Pola beribadah pun disesuaikan dengan kapasitas luas rumah ibadah dan jumlah jamaah. Pola-pola ini dimaksudkan untuk membiasakan sebuah lajur perilaku dan sikap baru dalam model adaptasi ekologis dan adaptasi ekosistem. Di kampung dan kebun? Ya, biasa-biasa saja.

Keakraban yang selama ini dilebih-lebihkan dalam gaya cipika-cipiki, dan berangkulan atau berpimpinan tangan, harus dijauhi.

Ya, sejumlah hidangan gaya metro-seksual?; dalam isu kesetaraan gender, fenomena LGBT, dan gaya hidup urbanized yang mendorong orang-orang untuk berkumpul ria hanya untuk sebuah alasan yang bernama reuni, ulang tahun, milad itu milad ini, bahkan demonstrasi politik yang mengibarkan panji-panji agama yang tak kenal henti, seraya memindahkan ibadah dari rumah ibadah ke ruang-ruang publik, apakah tengah jalan raya, di tengah taman umum.

Masjid dan rumah ibadah malah ditinggalkan, dia hanya dijadikan sebagai titik berangkat menuju sasaran demonstrasi. Kesadaran-kesadaran baru inilah yang dituntut dalam sebuah adaptasi primal, bahkan adaptasi paripurna.

Dan mungkin gaya hidup seperti ini (menjaga jarak baik secara sosial dan ibadah); dituntut berlaku untuk seratus tahun ke depan, sebelum keadaan planet ini pulih sedia kala.

Dan, memang kita tak lebih dari segerombolan makhluk yang hanya memindahmindahkan perabot di atas planet ini.

Kita mencungkil bukit dan menutup lembah demi pembangunan ruang terbuka hijau atau kompleks perumahan modern, lalu dengan bangga dan mendabik dada dan berkata: inilah pembangunan.

Padahal, secuil pun tiada pembangunan. Hanya merusak dan menggerogoti hukum alam yang telah muai dan jelita itu.

Hukum alam itu telah berlangsung sekian lama. Lalu, manusia mendesak dan menyudutkan hukum alam itu dengan hukum buatan manusia.

Saat ini, kita harus memasuki dan menata tatanan baru (new order); perintah baru, kode etik baru dalam menanggapi kaidah-kaidah baru, baik terhadap alam, antar sesama, antar makhluk, termasuk antar ideologi yang tak mesti merasa benar sendiri.

Dalam rempak gempita Covid-19 ini, kita diharu-birukan pula dengan peristiwa yang menyentak dawai kemanusiaan; bahwa di tanah yang diagung-agungkan sebagai “matahari”nya Hak Asasi Manusia, malah terjadi perisakan anti-Asia bergelombang, pembunuhan tragis dan brutal.

Duuhhh…ternyata hanya sekedar menggeser perabot.

Leave a Reply

Your email address will not be published.