Joe, Rumput Kamala

Ilustrasi: maryalicerosko.com

#YusmarYusuf

Kebahagiaan tak direngkuh lewat sensasi-sensasi biokimia. Sensasi jenis ini tak lebih dari kejahatan biokimia. Ingat lirik lagu terkenal dari Rihanna? Diamonds: “Shine bright like a diamond…”. Oww, sesuatu yang sukar direngkuh lewat akal sehat. Sensasi kebahagiaan juga bisa dihela lewat sesuatu yang terbentang di depan mata. Tak perlu lewat rangsangan-rangsangan kimiawi. Epicurus, di sebuah zaman nan jauh sekitar 2300 tahun lalu sudah memberi amaran tentang ihwal ini; “Pencarian kesenangan secara berlebihan, akan berbuah penderitaan, bukan kebahagiaan”. Lebih radikal dari ini, sabda sang Buddha; “bahwa pencarian sensasi-sensasi kebahagiaan, sesungguhnya adalah akar dari segala penderitaan”.

Terkadang, sejarah menjadi tangkai dan tumpuan orang untuk menghindari keterulangan sesuatu yang bernada kelam dan kekelaman peradaban. Lewat sejarah, orang berupaya menghindari dan membebaskan diri dari kekelaman masa lalu. Melalui sejarah pula, orang tak hendak mengabadikan masa lalu. Sejarah pun dibelokkan dan diarahkan untuk bergerak ke masa depan. Sensasi kebahagiaan tak memerlukan rangsangan kimiawi, juga tak perlu menghindari sejarah yang membelenggu, akan tetapi bisa diampu melalui kreasi-kreasi baru yang menjuntai dalam nada kreativitas manusia yang bersemangat baru pula. Tersebutlah alkisah tentang laman rumput nan hijau di sebuah rumah, yang dihuni pasangan muda yang secara khusus mengundang seorang arsitek dan pakar lanskap untuk mendesain sebuah rumah mungil dalam gaya kastil yang di depannya terhampar halaman dengan rumput hijau bak permadani. Kenapa ini dilakukan? Jawaban singkatnya; “Laman nan hijau teramat lawa untuk tempat hinggap mata penghuni dan tetamu yang datang”.

Duhaii, … Laman rumput hijau ini memiliki sejarah nan panjang jika dirunut ke belakang. Siulan Harari; “Pernahkah kita melihat jalan setapak menuju gua di era Zaman Batu yang dihiasi oleh bentangan rerumputan nan rapi, resik dan memikat menuju pintu gua? Dan begitu pula, tak ada laman rumput yang menyambut tetamu masuk ke Akropolis Athena, Capitol Romawi dan Kuil suci di Jerusalem, bahkan juga tiada bentangan padang rumput mini yang berada di depan istana yang hari ini dikenal sebagai ‘Kota Larangan’ (Forbidden City) Beijing”. Semua bangunan ini sejak dari gua Zaman Batu hingga “Kota Larangan”, bukanlah ruang publik biasa. Tetapi, tempat segala maslahat penguasa berhimpun dan menyatu: “kekuasaan dan efek ilahiah dewa-dewa”. Di sini, warna alam dari unsur bebatuan lebih dominan. Namun, ihwal gagasan yang menyentak tentang kehadiran lorong-lorong menuju mulut pintu istana dan kastil pribadi yang diapit oleh bentangan laman rumput hijau baru muncul pada abad pertengahan oleh kaum aristokrat di Prancis dan Inggris. Lalu, dilanjutkan pada awal era modern yang mengakar kuat dan menjadi simbol kebangsawanan. Dari sini, kebangsawanan dilekatkan oleh laman rumput nan hijau. Kian rapi tampilan rumput itu, semakin terkesan bangsawan sang pemilik rumah kastil itu.

Lantas, sensasi apa yang diperoleh lewat laman rumput menghijau itu? Tak sedikit anasir yang terlibat dalam upaya menghadir dan merawat padang rumput para bangsawan itu. Bayangkan sebelum ditemukan mesin rumput yang bergerak otomatis dan pancutan air otomatis untuk menyiram seluruh bidang laman. Berapa banyak tenaga kerja yang dilibatkan akibat kehadiran sang laman hijau ini? Padahal lahan yang digunakan untuk memelihara rumput ini sama sekali tak bernilai ekonomis. Di atasnya, kita tak bisa miara ternak; juga tak boleh diinjak. Walau dalam setahun, diberi peluang menginjak dalam satu hari. Selebihnya untuk pandangan mata, tempat hinggap dan  isterahat mata semata. Semakin luas dan kian hijau laman itu; seakan sang pemilik yang berkuasa penuh itu menyeruakkan proklamai sepihak, “bahwa BETA sanggup menghadirkan pertunjukan hijau yang memukau di atas bumi ini” (I am so rich and powerfull…). Ini juga sebuah sensani yang non-kimiawi, apatah lagi biokimia.

Kisah awal laman rumput hijau ini berasal dari negeri-negeri sub tropis. Karena bawaan alam dan hutan mereka yang homogen, memberi ruang bentangan karpet bak lapangan golf molek-menawan. Kenyataan ini, amat sulit hadir di negeri tropis yang heterogen dan basah lembab itu. Namun, teknologi penanaman rumput itu demikian maju, rambahan laman rumput hijau itu telah menerobos ke dunia tropis hingga ke Indonesia kini. Laman rumput hijau ini, menjadi tempat kegiatan sosial dan penyambutan tetamu istimewa (kehormatan), juga digunakan dalam momen-momen khusus. Oleh sebab itu,  ruang-ruang publik, istana, kastil para bangsawan yang memiliki laman rumput hijau, selalu diiringi dengan “sign board” atau rambu: “Jangan injak kami” atau “Menjauh dari kami”.  Selanjutnya, laman ini menjadi simbol otoritas para pangeran dan kaum “dalam (ndalem)” kerajaan di istana dan kastil. Tak sedikit kisah pemenggalan kepala para raja silih berganti, namun pergantian pemerintahan (perdana menteri) yang silih berganti itu pun tetap mempertahankan kehadiran laman rumput hijau sebagai simbol otoritatif sang penguasa.

Tersebutlah beberapa deretan kekuasaan otoritatif yang menghidangkan laman rumput hijau ini (bukan di sini); Istana Negara, Graha Mahkamah, Gedung Panglima Tentara, Parlemen, Kediaman Presiden, Kediaman Gubernur, juga akhir-akhir ini kediaman Bupati dan Walikota. Begitu pula, secara serempak, laman rumput hijau ini menusuk ke bidang olahraga, terutama sepak bola, rugbyhandball dan tennis. Sebab, selama ribuan tahun manusia menyelenggarakan segala jenis permainan di atas tanah, di atas lempung yang dipadatkan atau bahkan berseluncur di atas bongkahan es. Namun, saat ini manusia yang berhimpun dalam jumlah puluhan ribu di dalam sebuah stadion sepakbola, bisa mengaum dan meledakkan kegembiraannya bak gunung meletus pada sebuah malam, karena para penonton menatap orang-orang berlari dan berkejaran di atas laman rumput nan hijau, lalu melesakkan bola masuk ke gawang lawan: Goooooooll…. Gawang bergetar. Rerumput tetap sunyi, bisu. Senyap, damai…: “Quiet people have the loudest minds”, khutbah sang fisikawan ulung Stephen Hawking pada sebuah senja.

Sampiran mini satir  Yuval Noah Harari tentang “permainan sensasi anak-anak di kawasan kumuh Rio de Janeiro Brasil yang menendang bola-bola tiruan di atas pasir dan tanah penuh debu. Namun, di sebuah kawasan sub urban nan kaya, di kota yang sama, anak-anak orang kaya bersenang-senang di atas lahan rumput yang dirawat dengan cermat”. Lihatlah! Setiap Presiden Amerika yang baru dilantik, akan menyampaikan pidato kenegaraan di atas laman rumput nan hijau seraya menyambut tamu negara sahabat dalam suasana takzim-gempita. Dari sini terdefinisi bahwa laman rumput hijau melambangkan kekuatan politik, status sosial, capaian ekonomi sekaligus sensasi non-kimiawi. Padang rumput ala savanna yang di atasnya segala haiwan ternak bercengkerama, telah menciutkan diri di depan kekuasaan sang aristokrat.

Hari ini Rabu 20 Januari, di atas anak tangga gedung Capitol yang menyisakan sedikit hamparan rerumput hijau, Joe Biden dan Kamala Harris dilantik. Sebuah peristiwa demi meringkus kedunguan demokrasi yang telah dijalani oleh para aristokrat-populis selama kurang lebih 4 tahun. Gedung ini pernah senak bergemuruh lolongan bunyi suara orang-orang yang marah pada 6 Januari 2021. “You have your way. I have my way. As for the right way, the correct way, and the only way, it does not exist”, ujar Nietzsche.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.