EKSEMPLAR 

Ilustrasi: origins.net

#YusmarYusuf

Berlumpur dalam kubangan sejarah pemikiran, sejatinya bakal menemukan retakan (fractal), sekaligus sejumlah diskontinuitas yang terdesak-desak menjadi serpihan-serpihan serba tepian. Retakan-retakan itu (jika pun hendak dilekatkan dengan suasana menghibur hati), bolehlah disangkutkan dengan idiom atau pengucapan; “retak membawa ukir, bukan retak membawa belah”. Sejarah pemikiran yang membangun peradaban manusia hari ini, mengalir, atau bahkan bergerak sirkuler dalam sejumlah retakan, elakan dan ke-tak-terhubungan satu sama lain. Alias mengalami loncatan, interupsi, saling sikut, terencat, mengelak dan membentuk lorong-lorong baru dalam hanyutan menyesat dan menyesakkan. Dia dibungkus dalam alasan-alasan demi masa depan.

Masa depan dipintas secara amat lekas, agar mengunjungi kita hari ini(dan harus kini), walau sedianya dia memang  bakal datang (secara normal) dalam kurun 100 tahun atau paling lekas 50 tahun lagi. Namun, semua itu kita percepat sebagai akibat dari pintasan-pintasan zigzag dalam medan pintas (runaway). Kita tak mengalami peristiwa dan sekaligus tak menghormati medan susun dalam gerak teratur selajur bidang taxi ways. Hari ini, segala bentuk ruang susun taxy ways berstatus langu dan menganggur. Dalam kelanguan itu; orang-orang bersibuk pula ‘menghafal filsafat’.

Orang tak lagi membaca buku. Namun, buku bisa dibaca lewat penanda ekonomi. Sebab, buku bukan saja sebuah karya cipta dari peristiwa daya cipta manusia. Akan tetapi, buku adalah sebuah bidang yang memiliki batas (akhir), ketika dia berada dalam jelingan maujud fisik sahaja. Kenyataan ini oleh Foucault disebutnya sebagai “material individualization”; buku mengandungi ciri khas material tertentu; bahwa buku (livre) memakan ruang dan diikat oleh ruang (marjin atas-bawah; samping kiri dan kanan, dengan sejumlah fungsi pengingat dan private coding, termasuk pula fungsi partisi rayap dan resapan air). Buku punya nilai ekonomi, sekaligus buku memperlihatkan awal dan akhirnya dengan sejumlah tanda. Buku (livre) sebagai sebuah kesatuan, kata Foucault; apakah akan sama antara  sebuah antologi puisi dengan koleksi drama posthumous karya Desargues Traite de Coniques atau kumpulan karya Michelet “Histoire de France”?

Dalam tradisi kepengarangan Eropa, khusus dalam waham Prancis, buku (livre) memiliki sepupu pertiwi bernamaouevres. Buku, ujar Foucault bukanlah setakat sebuah obyek yang berada di tangan seseorang. Buku, tak bisa bertahan dalam kesejajaran-kesejajaran yang terkandung di dalamnya; kesatuannya amat variatif dan niskala. Sejurus setelah kita mempertanyakan kesatuan tersebut, buku langsung kehilangan bukti sebagai ‘fakta obyektif’ (self-evidence). Sekali lagi Foucault ‘menyelinapkan’ frasa, bahwa ketika itulah buku memperkenal dan mengkonstruksi dirinya sendiri hanya berdasarkan wilayah diskursus yang teramat kompleks.Begitu jua kesamaran batas sebuah buku; di belakang judul, baris pertama dan titik pada baris akhir, di balik konfigurasi internal, serta bentuk-bentuknya yang otonom, batas yang terikat oleh sistem referensi, teks dan jaringan kalimat yang mungkin saja diduga sebagai simpulan jaringan. Selanjutnya? Sang ‘penghafal istilah’, mengalami kecelaruan neural-system dan gagap memori.

Oeuvres, kian rumit. Dia hadir seakan tanpa gemala, namun sejatinya dia adalah sekumpulan nirmala dalam pusaran puzzle. Kerumitan nirmala ouevres itu, bak sehimpunan teks yang ditunjukkan (designed) oleh tanda-tanda atau pun isyarat yang dianugerahkan oleh setangkai nama. Tapi seluruh ‘penunjuk-kan’ ini tak memiliki fungsi homogenik. Misalnya, ujar Foucault; sejatinya nama pengarang, bisa menjadi penunjuk teks-teks yang telah lebih dahulu dipublikasikan juga atas namanya sendiri selaku pengarang; atau dibalut  dalam nama pena, dalam pilahan-pilahan berikutnya ditemukan sekumpulan teks walau masih dalam maujud draft yang terbengkalai dan belum selesai, bisa saja dalam juraian catatan-catatan tercabik, tercecer, dalam format memo atau catatan saku. Semua serpihan teks dan setandan catatan ini dijumpai setelah kematian sang pengarang. Di mana keterhubungan dan saling hubung-menghubung hermeunetik itu terjadi? Pada saat inilah para ‘pendaras remaja’ dalam  hermeunetika dan fenomenologia mengalami kebingunganstoici. Ya, ouevres adalah sekumpulan misterium yang teramat ranum dan wangi, karena dia dibungkus oleh sejumlah ‘kehilangan’ (salah satunya, kematian sang pengarang). Kerumitan ouevres, semakin menjadi-jadi. Penunjuk-kan sebuah ouevresyang utuh mengandaikan adanya begitu banyak pilihan yang sangat sulit dinilai atau diformulasi. Lalu Foucault mengalasnya dengan selayang pembelaan yang tak tergolong savoir(pengetahuan dalam “tanda kutip”) itu menjadi; “Apakah cukup dengan menambah catatan pada teks yang akan dipublikasikan itu bahwa pengarangnya ingin sekali menerbitkannya, tetapi sayang berjuta sayang, teks ini belum khatam pengerjaannya, tersebab sang pengarang mendadak mangkat?

Kebingungan temporal (akan waktu) diruda-paksa lagi dalam sebuah model relasi kausalitas atau kemiripan-kemiripan misteri (termasuk bunyi) yang seakan-akan bertindak selaku medium penyebaran beragam kesatuan defenitif seperti; individu, ouevres, konsep atau pun teori. Secara acak dan suksesif menghubungkan satu dengan yang lain dalam kesamaan prinsip yang dimiliki, yang kemudian dimasukkan dalam ruang bernama “eksemplar-eksemplar kekuatan hidup”, ujar Foucault lagi; seperti, kemampuan adaptasi, inovasi, mempertahankan relasi antar elemen-elemen berbeda, sistem asimiliasi dan pertukaran, termasuk menemukan satu prinsip koherensi pada rentang garis sebaris antara garis masa depan dengan segala bentuk permulaan, demikian pula kemampuan menyetel waktu melalui relasi asal usul sesuatu dengan istilah-istilah yang belum ditemukan. Kita yang menghabiskan waktu dan energi demi melayani kehendak proyek ‘eksemplar kekuatan hidup’ ini, seakan bersua dengan ‘istana kedunguan” masing-masing seraya merawat ‘retak’ dan ke-tak-terhubung-an temporal dan spatial sejarah sebagai ‘keseluruhan’ (totally history). Di  sini, seseorang diwajibkan bercanda dengan godaan Syaidina Abu Bakar r.a,;  “Bahwa Ketak-pahaman akan sebuah pemahaman adalah sebuah pemahaman”.Selanjutnya dinukil ulang dalam gaya filsuf tanah Franka, Voltaire: “The more I read, the more acquire, the more certain I am that I know nothing”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *